Lagi-Lagi Kim Jong-un Dapatkan Sanksi dari DK PBB Atas Ulahnya Meluncurkan Roket Jarak Jauh
NEW YORK – Seluruh Negara di dunia menyampaikan sebuah
kemarahan atas sebuah insiden peluncuran roket jarak jauh yang dilakukan oleh
rezin bandel Korea Utara (Korut). Dewan Keamanan atau disingkat DK PBB sudah
bersumpah akan memberikan hukuman baru terhadap Negara yang dipimpin oleh
seorang diktaktor muda yakni Kim Jong-un.
Sudah sebanyak 15 negara anggota tetap DK PBB telah
memutuskan bahwa Korut memang harus diberikan “konsekuensi serius” atas
tindakan peluncuran roket jarak jauh tersebut, yang diluncurkannya pada hari Minggu
kemarin.
”Para anggota Dewan Keamanan mengecam keras peluncuran ini,” ujar Presiden DK
PBB yang juga Duta Besar Venezuela untuk PBB; Rafael
Ramirez Dario Carreno,seperti dilansir Reuters, Senin (8/2/2016).
“Peluncuran
itu adalah pelanggaran serius,” tambahnya lagi. Para anggota DK PBB, ucap Carreno,
akan segera mungkin untuk merumuskan sanksi untuk sang diktaktor muda tersebut.
Sementara
Samantha Power, yakni Dubes AS untuk PBB sepakat atas keputusan DK PBB. “Kami akan
memastikan bahwa Dewan Keamanan memberlakukan konsekuensiserius. Pelanggaran
DPRK (Korut) terbaru
ini membutuhkan respon kita untuk
menjadi lebih tegas,” ujar Samantha.
Dubes Jepang untuk PBB, yakni Motohide
Yoshikawa juga mengatakan rancangan resolusi DK PBB untuk Korut akan lebih
kuat.
Seorang
diplomat Barat mengatakan pada Reuters bahwa Washington DC berharap untuk
memperketat pembatasan internasional terkait system perbankan Korut.
Sementara
itu, China yang juga merupakan sekutu kuat Korut terkesan setengah hati
mendukung penjatuhan sanksi yang baru terhadap rezim. “Pada akhirnya akan ada resolusi sanksi,” ujar seorang
diplomat China yang menolak diidentifikasi.
”China ingin langkah apapun terukur, tetapi (China) menginginkan Dewan (Keamanan PBB) mengirim
pesan yang jelas kepada DPRK (Korut) bahwa mereka harus mematuhi resolusi Dewan,” tambahnya.
China telah menyesalkan kenekatan Korut atas peluncuran roket jarak
jauh dengan menggunakan teknologi rudal balistik.

No comments: